Postingan

A Jump Of Idea

Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama-buruh dan pemuda, bangkit dan berkata--stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Dan para politisi di PBB, sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu, dan beras buat anak-anak yang lapar di tiga benua, dan lupa akan diplomasi. Tak ada lagi rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, ras apa pun, dan bangsa apa pun, dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik. Tuhan—saya mimpi tentang dunia tadi. Yang tak pernah akan datang. _Soe Hok Gie_ Akhir-akhir ini aku terus berpikir tentang kehidupan yang tak satu makhluk pun mengerti sudah sejauh mana lompatan perubahannya selain Tuhan yang maha ‘alim. Manusia baru jebolan gadget ini sudah muak dengan konflik  suku, ras, maupun  agama, apalagi soal kemanusiaan. Mereka telah banyak belajar sekaligus mendendam dan tak lagi menjadikan perbedaan sebagai potensi lahirnya konflik. Yang menjadi persoalan mendas...

Alangkah Mirisnya Negeriku

“Dan hendaklah ada segolongan umat diantara kalian yang menyeru kepada yang ma’ruf dan melarang kepada yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Ali- Imran: 104)" Kaum pelajar merupakan entitas sosial yang sangat potensial untuk menciptakan rekayasa budaya. Eksistensi mereka di tengah-tengah masyarakat sangat diistimewakan. Untuk itu kita selalu menempatkan kaum pelajar sebagai ujung tombak pembangunan suatu bangsa. Dengan menitik-beratkan perubahan pada kaum pelajar, maka aspek yang menjadi fokusan adalah dunia pendidikan. Pendidikan merupakan aspek fundamental dalam masyarakat, terutama dalam mencokol kebudayaan. Kebudayaan adalah buah dari pendidikan. Untuk itu agar dapat menciptakan kebudayaan sesuai dengan yang dicita-citakan tak elok jika harus menempatkan pendidikan sebagai kebutuhan kelas ketiga setelah ekonomi dan perang kepentingan (politik). Pendidikan menurut Syaikh Naquib Al-Attas adalah “usaha yang dilakukan pendidik terhadap anak didi...

No title

Telah mengasin jiwaku Usai karam di lautan Telah mengikis tubuhkuku Tersapu tangisan hujan asam. Berlipat-lipat tahun berlalu Tak satupun tempat terjamah Apa lagi yang bisa dikata Saat jarak dan kecepatan tak lagi bisa menghasilkan waktu. Ku pikir hukum alam tak berlaku untuk cinta 19

The Last Words

Bagaimana mungkin keresahan ini akan usai Kalaupun resah adalah jalan menuju tenang, maka tenang yang dimaksud hanyalah kata lain dari singgah. Menulis ini pun, tak pernah sungguh-sungguh berhasil menuangkan kekalutan Terlebih mengantarku pada perjumpaan spiritual. --- Inspirasi yang sebelumnya mengalir tak terbendung, terhalau arus air lain. Arus yang kumaksud adalah ego duniawi, yang menyumbat ide-ide menjadi badai. --- Aku tertawa Perjumpaan kita telah menjadi sepasang asing Yang hanya berhenti di kata-kata. Perjalanan ini pun hanya melahirkan alam surgawinya sendiri, tanpa bisa dibagi-bagi. --- Kenikmatan adalah ilusi Aku ingin berjumpa denganmu di alam makrifat. 19

Hidup adalah Kematian

Hidup adalah tuntutan untuk membunuh diri sendiri Bertahun-tahun lalu Nietsczhe berbicara tentang Tuhan dan kehidupan Aku tahu ia menulis dalam keadaan frustasi terhadap sakit yang dideritanya. Aku bisa mengatakan bahwa itu adalah harga yang harus ia bayar atas hidup yang ia kritisi. Memang, hidup yang dijalani adalah sebuah konsekuensi dari keputusan-keputusan yang diambil di masa lalu, entah itu baik atau sebaliknya Ia membayar untuk kebenaran yang ia utarakan. Kesalahan kecil yang ia perbuat adalah karena ia kurang cerdas bernegosiasi dengan kegelisahannya sendiri. Jangankan seorang anti Tuhan, orang sekaliber Muhammad pun harus membayar kebenaran dengan jutaan penghinaan. Namun ketahuilah, bahwa kebenaran tak pernah berpindah tempat. Orang dungu menilai kalau kau adalah seorang filosof yang gagal, dengan berkata bahwa Tuhan telah mati.  Tapi sesungguhnya kau tengah mengkritisi praktek hidup manusia yang bergerak masif pada pengingkaran terhadap eksistensi Tuhan. Bukan k...

Keruntuhan demi Keruntuhan

Bahasa adalah manifestasi daripada budaya. Bahasa merupakan alat untuk menyampaikan ide dan gagasan melalui proses komunikasi dan interaksi. Setiap bahasa akan membawa serta adab dan nilai. Bangun runtuh sebuah peradaban dipengaruhi oleh perkembangan dan perubahan bahasa. Semakin tinggi nilai yang terkandung di dalam bahasa, maka semakin beradab masyarakatnya. Akhir-akhir ini saya semakin intens melakukan interaksi dengan masyarakat, khususnya anak-anak. Semakin saya masuk ke dalam masyarakat semakin saya sadar bahwa manusia-manusia sekarang tidak lagi mempedulikan tentang nilai. Mereka telah banyak menanggalkan nilai-nilai di dalam dirinya dan tidak meninggalkan kebaikan apa-apa kepada generasi setelahnya selain materi. Lihat para orangtua, dengan ekspektasi yang terlampau melangit mereka titipkan anak-anaknya kepada guru-guru di sekolah dengan keyakinan anaknya akan jadi genius dan bermartabat dengan segala upaya dan proses yang dilalui di sekolah tanpa pernah sebelumnya menanam...

Sebuah tanda tanya

Aku tak tahu menahu lagi Milik siapa corong negeri ini Diteriakinya persamaan dan kebebasan dalam ini dan itu Tapi aku tak kenal untuk siapa ini dan itu Yang ku tahu kita semua telah bebas sejak dikandungan Aku tidak menahu lagi Pada bendoro mana kita beri abdi Yang ku tahu tanah kita tidak lagi mensejahterakan diri Ini negeri kaya katanya Nyatanya kita suka sekali menadah Pada tuan komunis juga liberalis Semua atas nama kebebasan Kita telah beli kebebasan dengan harga sampah Dan apa itu bebas? Kita tak lagi beri harga pada diri sendiri Mana bisa kita tahu bebas yang sejati Yang bebas adalah yang sampah Bukan begitu? Ahoy... Kasihan diri ini Lebih baik kita layangkan jiwa pada kesejatian Aku mau Indonesiaku yang utuh Bukan Indo bukan Pribumi, Totok apalagi Asing Kota tepian air, 26 Ramadan 1439 H