Postingan

No title

Telah mengasin jiwaku Usai karam di lautan Telah mengikis tubuhkuku Tersapu tangisan hujan asam. Berlipat-lipat tahun berlalu Tak satupun tempat terjamah Apa lagi yang bisa dikata Saat jarak dan kecepatan tak lagi bisa menghasilkan waktu. Ku pikir hukum alam tak berlaku untuk cinta 19

The Last Words

Bagaimana mungkin keresahan ini akan usai Kalaupun resah adalah jalan menuju tenang, maka tenang yang dimaksud hanyalah kata lain dari singgah. Menulis ini pun, tak pernah sungguh-sungguh berhasil menuangkan kekalutan Terlebih mengantarku pada perjumpaan spiritual. --- Inspirasi yang sebelumnya mengalir tak terbendung, terhalau arus air lain. Arus yang kumaksud adalah ego duniawi, yang menyumbat ide-ide menjadi badai. --- Aku tertawa Perjumpaan kita telah menjadi sepasang asing Yang hanya berhenti di kata-kata. Perjalanan ini pun hanya melahirkan alam surgawinya sendiri, tanpa bisa dibagi-bagi. --- Kenikmatan adalah ilusi Aku ingin berjumpa denganmu di alam makrifat. 19

Hidup adalah Kematian

Hidup adalah tuntutan untuk membunuh diri sendiri Bertahun-tahun lalu Nietsczhe berbicara tentang Tuhan dan kehidupan Aku tahu ia menulis dalam keadaan frustasi terhadap sakit yang dideritanya. Aku bisa mengatakan bahwa itu adalah harga yang harus ia bayar atas hidup yang ia kritisi. Memang, hidup yang dijalani adalah sebuah konsekuensi dari keputusan-keputusan yang diambil di masa lalu, entah itu baik atau sebaliknya Ia membayar untuk kebenaran yang ia utarakan. Kesalahan kecil yang ia perbuat adalah karena ia kurang cerdas bernegosiasi dengan kegelisahannya sendiri. Jangankan seorang anti Tuhan, orang sekaliber Muhammad pun harus membayar kebenaran dengan jutaan penghinaan. Namun ketahuilah, bahwa kebenaran tak pernah berpindah tempat. Orang dungu menilai kalau kau adalah seorang filosof yang gagal, dengan berkata bahwa Tuhan telah mati.  Tapi sesungguhnya kau tengah mengkritisi praktek hidup manusia yang bergerak masif pada pengingkaran terhadap eksistensi Tuhan. Bukan k...

Keruntuhan demi Keruntuhan

Bahasa adalah manifestasi daripada budaya. Bahasa merupakan alat untuk menyampaikan ide dan gagasan melalui proses komunikasi dan interaksi. Setiap bahasa akan membawa serta adab dan nilai. Bangun runtuh sebuah peradaban dipengaruhi oleh perkembangan dan perubahan bahasa. Semakin tinggi nilai yang terkandung di dalam bahasa, maka semakin beradab masyarakatnya. Akhir-akhir ini saya semakin intens melakukan interaksi dengan masyarakat, khususnya anak-anak. Semakin saya masuk ke dalam masyarakat semakin saya sadar bahwa manusia-manusia sekarang tidak lagi mempedulikan tentang nilai. Mereka telah banyak menanggalkan nilai-nilai di dalam dirinya dan tidak meninggalkan kebaikan apa-apa kepada generasi setelahnya selain materi. Lihat para orangtua, dengan ekspektasi yang terlampau melangit mereka titipkan anak-anaknya kepada guru-guru di sekolah dengan keyakinan anaknya akan jadi genius dan bermartabat dengan segala upaya dan proses yang dilalui di sekolah tanpa pernah sebelumnya menanam...

Sebuah tanda tanya

Aku tak tahu menahu lagi Milik siapa corong negeri ini Diteriakinya persamaan dan kebebasan dalam ini dan itu Tapi aku tak kenal untuk siapa ini dan itu Yang ku tahu kita semua telah bebas sejak dikandungan Aku tidak menahu lagi Pada bendoro mana kita beri abdi Yang ku tahu tanah kita tidak lagi mensejahterakan diri Ini negeri kaya katanya Nyatanya kita suka sekali menadah Pada tuan komunis juga liberalis Semua atas nama kebebasan Kita telah beli kebebasan dengan harga sampah Dan apa itu bebas? Kita tak lagi beri harga pada diri sendiri Mana bisa kita tahu bebas yang sejati Yang bebas adalah yang sampah Bukan begitu? Ahoy... Kasihan diri ini Lebih baik kita layangkan jiwa pada kesejatian Aku mau Indonesiaku yang utuh Bukan Indo bukan Pribumi, Totok apalagi Asing Kota tepian air, 26 Ramadan 1439 H

Neo kolonialisme di Negeriku

Di malam cipta rasa Aku terperanjat dengan lidah kelu Terjebak mati dalam kebisuan kata Salah siapa memang Mengapa aku harus mengusik ketenanganku sendiri ? Menguak negeri yang sudah tergadai lalu Jiwaku melaju dalam aliran pesimistis Terkulai dalam benih-benih materialis, teror, dan phobia Atas nama kepentingan bangsa Setiap manis kata mengelopak indah di ranting-ranting sandiwara tuan-tuan bangsanya Seolah menjanjikan manisnya kesejahteraan Indonesiaku yang dulunya tinggi akan prinsip dan nilai Kala ditelisik memoar sultan serta raja-rajanya Perjuangan demi perjuangan Bangun runtuh kerajaan demi kerajaan Rakyatnya yang cinta dengan pemimpinnya Yang hidupnya rukun dengan menyerap nilai-nilai luhur leluluhurnya Damai di dalam kedamaian Tanpa amuk anarkis kaum kolonialis Indonesiaku yang menjunjung kebinekaan Tumbuh subur berbagai ras dan bahasa Ideologi serta praktik-praktik keagamaan Sudah terkubur kepentingan Gagap dalam menyerap perbedaan Sentimen terhadap k...

MEWAKAFKAN DIRI

Sumpah demi sumpah Yang lahir di luas dan kejamnya cakrawala Gunung yang hidup dan mati suri Lautan yang melumat habis karam Daun yang gugur satu demi satu Fajar dan Senja Pertemuan dan pertemananku dengan kehidupan Tidak lah lebih dari pembuktian diri pada Tuhan yang telah meramu kebinatangan dari dalam diri Bersama kun fayakun-Mu Hidupkan lah aku sebagai Muhammad ke dua Wakafkan aku sebagai Al fatih abad milenia Bismillahi majreha wamursaha Ku layangkan jiwaku di jalan Mu Ku hidupkan lilin-lilin kehidupan dari dalam sanubari Di malam yang aduhai keramatnya Di garis batas waktu Di titik nol Kota Bima, 5 juli 2018