Postingan

SAMPAI TIDAK ADA PENYESALAN

Pertemuan pertama itu. Dulu sekali. Aku masih malu-malu. Segan untuk menyapa. Masih apik dalam ingatanku, kau hanya menyapaku dengan satu kalimat, "dimakan permennya Na" Lalu aku membalasnya dengan senyuman dan satu anggukan, setelah itu kamu berlalu dan tak kembali.  Aku tahu kamu malu. Begitu juga aku. Kamu sahabat kecilku. Pertemuan kita begitu sederhana dan polos. Aku yang selalu tempramen seringkali memaksamu terjebak dalam masalah. Bahkan kemarin saat berusaha kabur dari tukang calo bus di terminal. Aku yang buat masalahnya. Kamu yang nanggung. Hehe Kini usiaku dua puluh satu berjalan. Kau semakin dewasa, sedangkan aku masih saja tempramen. Tapi aku seringkali menghibur diri dan membuat justifikasi terhadap sifatku yang tidak pernah berubah. Terdengar absurd memang. Tapi kemarin kamu bilang kalau itu bagian yang paling lucu dari diriku. Aku yang sering buat kamu geleng-geleng kepala melihat ide-ideku yang konyol. Semisal waktu pulang terlambat dari rumah sakit denga...

Waktu...jangan berlari secepat kilat

Waktuku berlalu satu jam lebih beberapa menit Pandanganku masih setia menelusuri ciptaan yang maha dengan putih pekat menyelimuti Pikiran melayang Kata kata terbius bungkam tak berbahasa.. Ada jejeran pohon mahoni yang menjulang samar samar tertutup kabut Lekukan bukit berbaris baris membentuk gugusan sempurna Di ujung sana terhampar selat bali yang hampir tak terlihat Oleh kabut dubuatnya bersembunyi Aku yang membisu Hanya menunduk tak berdaya Dan berharap Tuhan membalas cintaku #di kesendirian menunggu hujan 19

Surat untuk teman-temanku

Aku ingin bercerita Di malam yang sepi dari keramaian Saat bau asap motor hampir hilang terhimpit jarak ... Ada apa dengan kita? Semua kembali kepada waktu Dimana segalanya menjadi beku Tegur sapa tak lagi sehangat biasa Teman... Emosi kita bertalu-talu Iman kita sakit Kata cinta pecah berkeping-keping Terpental dan membentur dinding kebencian Ada apa dengan kita? Senyummu pahit sekali Hatiku dingin tak lagi peka . . . -aku yang daif-

Bosan

Hanya ditemani secangkir teh,,, Minuman ini lagi Ia tenggelam ke dalam ekstase Menyelami setiap sudut jiwa Sambil mengusir kerinduan yang mengusik sedari kemarin Hingga sekarang terus saja bertumpuk tumpuk . . . maafkanlah kebodohan ini -19-

Sendiri yang selalu

Pernahkah kau begitu merindukan sepi? Pernahkah jiwamu begitu terpompa karna kebisingan? Orang orang mungkin akan berpikir gila Mengapa sepi menjadi angan? Bukankah ramai itu adalah impian? . . Ahh A ku tidak begitu Aku selalu ingin sepi Karna kebisingan selalu angkuh Merasa teramat sering diagungkan Anak anak jalanan adalah mereka yang tidak pernah bahagia dengan sepi Kau tau mengapa? Karna mereka benci dipecundangi Sejatinya jika mereka terus mencari makna dari sepi Maka mereka tak akan tersesat dipencariannya akan keramaian . . Kau tau mengapa aku cinta akan sepi? Sepi adalah seni Karna sepi aku selalu merasa hidup Karna dengan sepilah aku selalu ingin berkarya . Kau lihat mega di sore hari Saat hari akan gelap Di sana ia sendiri Namun kau selalu tau ia begitu megah Megah dan mengagumkan Kau lihat rembulan Tanpa sinar bintangpun ia tetap indah Indah dan selalu dirindui . Aku rindu duduk manis bersamamu menikmati belaian angin di sore hari Sambil me...

Sosokmu yang selalu ku banggakan

Sekali waktu aku teringat akan dia...dia yang sangat kubanggakan.. Sosoknya yang sederhana namun berjiwa besar.. Disuatu ketika yang telah lama ku simpan Saat aku masih jauh dari dewasa masih sibuk berlari kesana kemari memanggil teman-teman sebayaku untuk bermain. Aku adalah anak yang cukup pemberani dan diperhitungkan di antara teman-teman sebayaku sebab sifatku yang antusias dengan banyak hal, hingga sahabat-sahabatku memanggilku dengan sebutan "babeng",  karena sikapku yang tomboy. Suatu ketika saat aku tengah sibuk bermain dengan anak-anak lainnya, ayah memanggilku dari belakang. . Aku baru ingat bahwa hari itu ada pertandingan bola. Seketika aku berlari mendatangi ayah dan meningglkan permainanku. Seperti tahun-tahun biasanya, ayah selalu antusias jika ada pertandingan bola. Dan aku tak pernah absen untuk ikut. Biasanya ibu selalu mempersiapkan bekal makanan. Meski sederhana, tapi bagiku masakan ibu selalu yang paling enak. Waktu itu orang-orang masih jarang ...

Berbenah - dari-saat-sekarang

Kerja kita belum apa-apa Tapi keluh sudah dahulu Belum memberi harapan apa-apa Belum juga ada titah Apa lagi pengharapan Keluh sudah melesat lincah Lebih lincah dari anak panah Lebih dahsyat dari bom hirosima Sudah itu hancur... Kerja belum juga ada Apa yg ingin kita persembahkan ? Kita masih saling mendebat Masih meributkan siapa yg harus bekerja Siapa yg memulai Semuanya bohong Kita  ini tak lebih dari keledai yang pandai merengek Atau harimau yang mengaum angkuh Atau diam malas seperti parasit... Bagaimana kita bisa menciptakan perubahan Selama ini hanya omong kosong .. . Tidak membe ri apa-apa SADAR KAWANKU KITA SUDAH HARUS BERGERAK DARI SEKARANG #89