Postingan

MA LAO

Ada yang melarikan diri bertahun-tahun Di bawah remang cahaya lampu jalan dan temaram malam di pojokan kota Ada yang susah mengatakan iya Pada kebenaran yang diselubungkannya di antara celah-celah kerinduan Kau tahu Sakit menyakitimu Kau pun tahu Belenggu jiwaku belum lepas sempurna

Siapa saja

Di suatu sore aku menuju pantai dengan menunggang kuda Sambil menelusuri bibir pantai, aku menyaksikan para pelaut sedang mempersiapkan alat-alat melautnya: jala, tali, strongke, dan beberapa barang bawaan lainnya. Nampaknya langit sedang bersahabat Para pelaut itu begitu antusias Seolah seperti seekor rusa yang berlari dan menambah kecepatannya agar tetap hidup Disitu Pantai itu Yang tak berarti tanpa laut Yang meneduhkan, juga merisaukan Aku menyukainya sekaligus membencinya Karna ia menjadi tempat berlalu lalangnya dua nasib Ketika ombak menggapainya, maka terseretlah apa-apa yang ada Dan hanya menyisakkan hamparan pasir yang datar Tempat aku meletakkan ujung tongkat itu dan menuliskan angka 19 di atasnya Bertemankan angin dan garis lengkung yang mulai memerah Aku menepis segala kehampaan yang mulai menyesak di dada Tuhan pasti tau mengapanya Dengan satu hentakan Ku pacu kudaku meninggalkan bibir pantai Dan kembali pada keheningan malam Tentang hiruk pikuk kehidu...

Maukah menemani aku?

Sedang kesepian n? Aku sedang berpikir tentang hijrahku. Sedang berhenti dimana aku? Sepi, sunyi. Ku nyalakan lilin kecil yang ku bawa sebagai bekal perjalananku. Apinya menyala kecil lalu besar  dan berlanjut sampai fajar mulai nampak. Pikiranku terhenti untuk menjawab. Banyak pertanyaan yang hanyut menemaniku. Siapa yang akan jadi fajar baru di zaman milenium kedua? Siapa yang akan menemaniku berhijrah? Lihatkah bulan semalam? Tiada tanda kebahagiaan. Aku lihat bersama wajah-wajah muram. Sendiri dan berjauhan. Apakah kamu mau menemani hijrahku, wahai kehampaan?

Forget the way it

Sejak kau hadir Tidak memberi apa apa selain menghapus asaku pada dunia Aku bukan lagi milik diriku, tapi milik umat Meski begitu Hasratku kadang berbelok Oleh gempita masa lalu Aku lupa arah Pernah begitu Baktiku padamu sirna Tapi sekejap Dan tidak merubah cinta yg ada Yang ku semai jauh-jauh hari Kau yang membersamai jatuh bangunnya iman Hingga hilang pedih perih Dan aku Lupa bagaimana cara kucintaimu . . . PII

SAMPAI TIDAK ADA PENYESALAN

Pertemuan pertama itu. Dulu sekali. Aku masih malu-malu. Segan untuk menyapa. Masih apik dalam ingatanku, kau hanya menyapaku dengan satu kalimat, "dimakan permennya Na" Lalu aku membalasnya dengan senyuman dan satu anggukan, setelah itu kamu berlalu dan tak kembali.  Aku tahu kamu malu. Begitu juga aku. Kamu sahabat kecilku. Pertemuan kita begitu sederhana dan polos. Aku yang selalu tempramen seringkali memaksamu terjebak dalam masalah. Bahkan kemarin saat berusaha kabur dari tukang calo bus di terminal. Aku yang buat masalahnya. Kamu yang nanggung. Hehe Kini usiaku dua puluh satu berjalan. Kau semakin dewasa, sedangkan aku masih saja tempramen. Tapi aku seringkali menghibur diri dan membuat justifikasi terhadap sifatku yang tidak pernah berubah. Terdengar absurd memang. Tapi kemarin kamu bilang kalau itu bagian yang paling lucu dari diriku. Aku yang sering buat kamu geleng-geleng kepala melihat ide-ideku yang konyol. Semisal waktu pulang terlambat dari rumah sakit denga...

Waktu...jangan berlari secepat kilat

Waktuku berlalu satu jam lebih beberapa menit Pandanganku masih setia menelusuri ciptaan yang maha dengan putih pekat menyelimuti Pikiran melayang Kata kata terbius bungkam tak berbahasa.. Ada jejeran pohon mahoni yang menjulang samar samar tertutup kabut Lekukan bukit berbaris baris membentuk gugusan sempurna Di ujung sana terhampar selat bali yang hampir tak terlihat Oleh kabut dubuatnya bersembunyi Aku yang membisu Hanya menunduk tak berdaya Dan berharap Tuhan membalas cintaku #di kesendirian menunggu hujan 19

Surat untuk teman-temanku

Aku ingin bercerita Di malam yang sepi dari keramaian Saat bau asap motor hampir hilang terhimpit jarak ... Ada apa dengan kita? Semua kembali kepada waktu Dimana segalanya menjadi beku Tegur sapa tak lagi sehangat biasa Teman... Emosi kita bertalu-talu Iman kita sakit Kata cinta pecah berkeping-keping Terpental dan membentur dinding kebencian Ada apa dengan kita? Senyummu pahit sekali Hatiku dingin tak lagi peka . . . -aku yang daif-