Postingan

Keruntuhan demi Keruntuhan

Bahasa adalah manifestasi daripada budaya. Bahasa merupakan alat untuk menyampaikan ide dan gagasan melalui proses komunikasi dan interaksi. Setiap bahasa akan membawa serta adab dan nilai. Bangun runtuh sebuah peradaban dipengaruhi oleh perkembangan dan perubahan bahasa. Semakin tinggi nilai yang terkandung di dalam bahasa, maka semakin beradab masyarakatnya. Akhir-akhir ini saya semakin intens melakukan interaksi dengan masyarakat, khususnya anak-anak. Semakin saya masuk ke dalam masyarakat semakin saya sadar bahwa manusia-manusia sekarang tidak lagi mempedulikan tentang nilai. Mereka telah banyak menanggalkan nilai-nilai di dalam dirinya dan tidak meninggalkan kebaikan apa-apa kepada generasi setelahnya selain materi. Lihat para orangtua, dengan ekspektasi yang terlampau melangit mereka titipkan anak-anaknya kepada guru-guru di sekolah dengan keyakinan anaknya akan jadi genius dan bermartabat dengan segala upaya dan proses yang dilalui di sekolah tanpa pernah sebelumnya menanam...

Sebuah tanda tanya

Aku tak tahu menahu lagi Milik siapa corong negeri ini Diteriakinya persamaan dan kebebasan dalam ini dan itu Tapi aku tak kenal untuk siapa ini dan itu Yang ku tahu kita semua telah bebas sejak dikandungan Aku tidak menahu lagi Pada bendoro mana kita beri abdi Yang ku tahu tanah kita tidak lagi mensejahterakan diri Ini negeri kaya katanya Nyatanya kita suka sekali menadah Pada tuan komunis juga liberalis Semua atas nama kebebasan Kita telah beli kebebasan dengan harga sampah Dan apa itu bebas? Kita tak lagi beri harga pada diri sendiri Mana bisa kita tahu bebas yang sejati Yang bebas adalah yang sampah Bukan begitu? Ahoy... Kasihan diri ini Lebih baik kita layangkan jiwa pada kesejatian Aku mau Indonesiaku yang utuh Bukan Indo bukan Pribumi, Totok apalagi Asing Kota tepian air, 26 Ramadan 1439 H

Neo kolonialisme di Negeriku

Di malam cipta rasa Aku terperanjat dengan lidah kelu Terjebak mati dalam kebisuan kata Salah siapa memang Mengapa aku harus mengusik ketenanganku sendiri ? Menguak negeri yang sudah tergadai lalu Jiwaku melaju dalam aliran pesimistis Terkulai dalam benih-benih materialis, teror, dan phobia Atas nama kepentingan bangsa Setiap manis kata mengelopak indah di ranting-ranting sandiwara tuan-tuan bangsanya Seolah menjanjikan manisnya kesejahteraan Indonesiaku yang dulunya tinggi akan prinsip dan nilai Kala ditelisik memoar sultan serta raja-rajanya Perjuangan demi perjuangan Bangun runtuh kerajaan demi kerajaan Rakyatnya yang cinta dengan pemimpinnya Yang hidupnya rukun dengan menyerap nilai-nilai luhur leluluhurnya Damai di dalam kedamaian Tanpa amuk anarkis kaum kolonialis Indonesiaku yang menjunjung kebinekaan Tumbuh subur berbagai ras dan bahasa Ideologi serta praktik-praktik keagamaan Sudah terkubur kepentingan Gagap dalam menyerap perbedaan Sentimen terhadap k...

MEWAKAFKAN DIRI

Sumpah demi sumpah Yang lahir di luas dan kejamnya cakrawala Gunung yang hidup dan mati suri Lautan yang melumat habis karam Daun yang gugur satu demi satu Fajar dan Senja Pertemuan dan pertemananku dengan kehidupan Tidak lah lebih dari pembuktian diri pada Tuhan yang telah meramu kebinatangan dari dalam diri Bersama kun fayakun-Mu Hidupkan lah aku sebagai Muhammad ke dua Wakafkan aku sebagai Al fatih abad milenia Bismillahi majreha wamursaha Ku layangkan jiwaku di jalan Mu Ku hidupkan lilin-lilin kehidupan dari dalam sanubari Di malam yang aduhai keramatnya Di garis batas waktu Di titik nol Kota Bima, 5 juli 2018

UBAH HALUAN

Di gerbang samping sekolahmu Motorku melaju kencang Dalam gelap yang mengepul bersama temaram Malam tadi Derap langkahmu kembali menyadarkan ku Seolah memanggul kembali kenangan lama yang lama punah Di situ Pernah ada sorot mata dan senyum simpul mu yang menjurus padaku Di situ Ku terima peci hitammu yang ku pinjam untuk ku pakai di upacara senin pagi Di situ juga Sekotak obat merah dan gulungan perban yang kau beri saat aku jatuh terkulai dari kendaraanku Di situ lagi Ku pulangkan kembali kenangan pahit ke tempatnya semula. 20 Ramadan 1438 H

Indonesia dalam tempurung burung gagak

Seharusnya aku bisa berkontemplasi malam hari ini Tentang perjuangan umat islam yang tak pernah berkesudahan Atau sekedar berjalan-jalan melihat kehidupan rakyat jelata di pinggiran kota Yogyakarta Lalu membiarkan diriku menangis tersedu sedan Menyesali kelahiran negeriku yang setengah matang Negeri yang mengakui kebebasan beragama tapi sentimen terhadap kritik Bagaimana bisa disebut merdeka Tapi yasudah lah. . . Memang hanya sampai di sini batas aku diizinkan Tuhan Hijrahku seolah kosong dan paradoks Aku sungguh di telan kebingungan Negeri yang mayoritas muslim tapi phobia terhadap penegakan hukum islam Aneh sekali Bagaimana bisa aku lahir di sini? Lebih baik aku tidur Besok bangun lagi dan menyaksikan islam telah berjaya di mana-mana Seperti kartini yang bermimpi tentang kebebasan perempuan Yogyakarta, 04 mei 2018

JATUH BANGUN

Ki Hajar dengan taman siswanya adalah tokoh pendidikan Indonesia pertama. Katanya. Nyatanya Muhammadiyah yang tersohor ada lebih dulu. Ah...sejarah telah meruntuhkan struktur berpikir ku. Tadi aku mengunjungi makamnya. Namun tak nampak nisannya. Yang ada hanya gelap dan kesunyian. Finally aku melanjutkan perjalananku menuju alun-alun. Di alun-alun aku belajar permainan egrang.  Menyenangkan meski sempat jatuh berkali-kali karena kecerobohanku menjaga keseimbangan. Katanya egrang biasa dimainkan oleh para Sunan agar mereka dapat menjaga langkahnya tanpa perlu khawatir terkena najis. Selain itu egrang juga dapat melatih emosi.  Menyenangkan sekali bukan? Oh ya aku sedang merasa bersalah. Sebab perjalanan kali ini harus berakhir dengan kaki memar dan berdarah. Temanku. Dia jatuh bersama motornya saat meluncur turun dari tanjakan. Jalan yang kami lalui memang cukup menantang adrenalin. Berbatu dan rusak. Aku panik tapi gagap bertindak. Bingung harus berbuat apa. Well...aku cuma...