Postingan

MEWAKAFKAN DIRI

Sumpah demi sumpah Yang lahir di luas dan kejamnya cakrawala Gunung yang hidup dan mati suri Lautan yang melumat habis karam Daun yang gugur satu demi satu Fajar dan Senja Pertemuan dan pertemananku dengan kehidupan Tidak lah lebih dari pembuktian diri pada Tuhan yang telah meramu kebinatangan dari dalam diri Bersama kun fayakun-Mu Hidupkan lah aku sebagai Muhammad ke dua Wakafkan aku sebagai Al fatih abad milenia Bismillahi majreha wamursaha Ku layangkan jiwaku di jalan Mu Ku hidupkan lilin-lilin kehidupan dari dalam sanubari Di malam yang aduhai keramatnya Di garis batas waktu Di titik nol Kota Bima, 5 juli 2018

UBAH HALUAN

Di gerbang samping sekolahmu Motorku melaju kencang Dalam gelap yang mengepul bersama temaram Malam tadi Derap langkahmu kembali menyadarkan ku Seolah memanggul kembali kenangan lama yang lama punah Di situ Pernah ada sorot mata dan senyum simpul mu yang menjurus padaku Di situ Ku terima peci hitammu yang ku pinjam untuk ku pakai di upacara senin pagi Di situ juga Sekotak obat merah dan gulungan perban yang kau beri saat aku jatuh terkulai dari kendaraanku Di situ lagi Ku pulangkan kembali kenangan pahit ke tempatnya semula. 20 Ramadan 1438 H

Indonesia dalam tempurung burung gagak

Seharusnya aku bisa berkontemplasi malam hari ini Tentang perjuangan umat islam yang tak pernah berkesudahan Atau sekedar berjalan-jalan melihat kehidupan rakyat jelata di pinggiran kota Yogyakarta Lalu membiarkan diriku menangis tersedu sedan Menyesali kelahiran negeriku yang setengah matang Negeri yang mengakui kebebasan beragama tapi sentimen terhadap kritik Bagaimana bisa disebut merdeka Tapi yasudah lah. . . Memang hanya sampai di sini batas aku diizinkan Tuhan Hijrahku seolah kosong dan paradoks Aku sungguh di telan kebingungan Negeri yang mayoritas muslim tapi phobia terhadap penegakan hukum islam Aneh sekali Bagaimana bisa aku lahir di sini? Lebih baik aku tidur Besok bangun lagi dan menyaksikan islam telah berjaya di mana-mana Seperti kartini yang bermimpi tentang kebebasan perempuan Yogyakarta, 04 mei 2018

JATUH BANGUN

Ki Hajar dengan taman siswanya adalah tokoh pendidikan Indonesia pertama. Katanya. Nyatanya Muhammadiyah yang tersohor ada lebih dulu. Ah...sejarah telah meruntuhkan struktur berpikir ku. Tadi aku mengunjungi makamnya. Namun tak nampak nisannya. Yang ada hanya gelap dan kesunyian. Finally aku melanjutkan perjalananku menuju alun-alun. Di alun-alun aku belajar permainan egrang.  Menyenangkan meski sempat jatuh berkali-kali karena kecerobohanku menjaga keseimbangan. Katanya egrang biasa dimainkan oleh para Sunan agar mereka dapat menjaga langkahnya tanpa perlu khawatir terkena najis. Selain itu egrang juga dapat melatih emosi.  Menyenangkan sekali bukan? Oh ya aku sedang merasa bersalah. Sebab perjalanan kali ini harus berakhir dengan kaki memar dan berdarah. Temanku. Dia jatuh bersama motornya saat meluncur turun dari tanjakan. Jalan yang kami lalui memang cukup menantang adrenalin. Berbatu dan rusak. Aku panik tapi gagap bertindak. Bingung harus berbuat apa. Well...aku cuma...

180 menit Bersama Kalian

Senja dan sebuah pengembaraan Telah membuangku di antara reruntuhan dan puing-puing masa lalu Prasasti, relief, dan arca berbicara atas nama kekuasaan, seni, dan budaya Yang nyata dan imajiner Aku meniti lorong - lorong sepi yang sunyi Hanya gema dari denyut nadi semesta yang bisa kudengar seolah mendendangkan kisah-kisah kebiadaban dan keluhuran suatu masa Mereka yang selalu mencintai kesucian dan ketinggian namun tak pernah menjadi luhur Sejak dulu kini dan nanti Dari tiap-tiap lorong waktu yang ku telusuri Yang terungkap hanyalah penyesalan semesta Entah, entahlah... Intiku yang gulana ataukah puing-puing itu yang menangisi dirinya sendiri Bicaralah Bicaralah atas nama kemanusiaan Bukankah aku kamu dan semesta adalah karya Tuhan yang satu? Siluet dan kehangatan tegur sapa Telah membawa kita pada sebuah ketakjuban Di manapun selalu ada yang tertinggal dan meninggalkan Semoga aku, kamu, dan kamu sama-sama meninggalkan sapa Bukan penyesalan seperti wajah puing-puing ...

Yogyakarta II

Kata, Kata, Kata Al-Mukarrom Umbu Landu Paranggi Yang akan mengawali kisah hari ini ... Kenangkanlah gumam pertama Pertemuan tak terduga Di suatu kota pantai Di suatu hari kemarau Di suatu keasingan rindu Di suatu perjalanan biru Kenangkanlah bisikan pertama Risau pertarungan kembara Duka percintaan sukma Rahasia perjanjian sunyi Kenangkanlah percakapan pertama Gugusan waktu, napas dan peristiwa Mungkin hanya angin, daun dan debu Pesona terakhir nyanyian sajakku Yogyakarta, 28 April 2018 Angka yang unik bukan? Pijakan keduaku di kota ini setelah 2015 lalu. Aku berakhir di pinggiran rel kereta api dengan barang bawaan yang rempong serta perut keroncongan bersama sahabat lamaku, Anis. Aku tak suka moment seperti ini. "Ah Yogya...mengapa sambutanmu seperti ini?" Tanyaku dalam hati yang sedang mencoba mendamaikan terik. Suhu udara kali ini sangat tak bersahabat. Panas, polusi bercampur menjadi satu. Aku mengeluh sekian waktu. Finally...senyum di wajahku seg...

Sebuah Perjalanan

First day, 27 April 2018 Di perjalanan dari Pare menuju Yogyakarta aku terbangun di pukul 01.30 dini hari. Dalam upaya menghadirkan kembali kantuk aku merenungi sepenggal kisah seorang anak alam. Ia lah Soe. Soe hok Gie. Anak muda yang menjunjung tinggi idealisme di tengah kebobrokan politik bangsa. Entah apa yang mendorongku. Akhir-akhir ini aku sering menghabiskan waktu untuk menyelesaikan lembaran cerita tentangnya. Mencari-cari letak keistimewaan dan mencocokkannya dengan diriku. Pada akhirnya aku menemukan kesamaan bahwa aku dan ia sama-sama pengagum alam dan selalu memilih alam untuk menumpahkan kekecewaan pada dunia. Aku menemukan nilai yang tak sebatas teks-teks basi dari sepenggal cerita hidupnya, yaitu tentang persahabatan, kegagalan cinta, perjuangan politik, kehidupan mahasiswa, pers, dan segala yang mengaitkannya dengan mandalawangi. Kehidupan kampus memang kehidupan paling romantis dalam sejarah umat manusia, dimana setiap orang selalu punya idealisme masing-masing, na...