Postingan

180 menit Bersama Kalian

Senja dan sebuah pengembaraan Telah membuangku di antara reruntuhan dan puing-puing masa lalu Prasasti, relief, dan arca berbicara atas nama kekuasaan, seni, dan budaya Yang nyata dan imajiner Aku meniti lorong - lorong sepi yang sunyi Hanya gema dari denyut nadi semesta yang bisa kudengar seolah mendendangkan kisah-kisah kebiadaban dan keluhuran suatu masa Mereka yang selalu mencintai kesucian dan ketinggian namun tak pernah menjadi luhur Sejak dulu kini dan nanti Dari tiap-tiap lorong waktu yang ku telusuri Yang terungkap hanyalah penyesalan semesta Entah, entahlah... Intiku yang gulana ataukah puing-puing itu yang menangisi dirinya sendiri Bicaralah Bicaralah atas nama kemanusiaan Bukankah aku kamu dan semesta adalah karya Tuhan yang satu? Siluet dan kehangatan tegur sapa Telah membawa kita pada sebuah ketakjuban Di manapun selalu ada yang tertinggal dan meninggalkan Semoga aku, kamu, dan kamu sama-sama meninggalkan sapa Bukan penyesalan seperti wajah puing-puing ...

Yogyakarta II

Kata, Kata, Kata Al-Mukarrom Umbu Landu Paranggi Yang akan mengawali kisah hari ini ... Kenangkanlah gumam pertama Pertemuan tak terduga Di suatu kota pantai Di suatu hari kemarau Di suatu keasingan rindu Di suatu perjalanan biru Kenangkanlah bisikan pertama Risau pertarungan kembara Duka percintaan sukma Rahasia perjanjian sunyi Kenangkanlah percakapan pertama Gugusan waktu, napas dan peristiwa Mungkin hanya angin, daun dan debu Pesona terakhir nyanyian sajakku Yogyakarta, 28 April 2018 Angka yang unik bukan? Pijakan keduaku di kota ini setelah 2015 lalu. Aku berakhir di pinggiran rel kereta api dengan barang bawaan yang rempong serta perut keroncongan bersama sahabat lamaku, Anis. Aku tak suka moment seperti ini. "Ah Yogya...mengapa sambutanmu seperti ini?" Tanyaku dalam hati yang sedang mencoba mendamaikan terik. Suhu udara kali ini sangat tak bersahabat. Panas, polusi bercampur menjadi satu. Aku mengeluh sekian waktu. Finally...senyum di wajahku seg...

Sebuah Perjalanan

First day, 27 April 2018 Di perjalanan dari Pare menuju Yogyakarta aku terbangun di pukul 01.30 dini hari. Dalam upaya menghadirkan kembali kantuk aku merenungi sepenggal kisah seorang anak alam. Ia lah Soe. Soe hok Gie. Anak muda yang menjunjung tinggi idealisme di tengah kebobrokan politik bangsa. Entah apa yang mendorongku. Akhir-akhir ini aku sering menghabiskan waktu untuk menyelesaikan lembaran cerita tentangnya. Mencari-cari letak keistimewaan dan mencocokkannya dengan diriku. Pada akhirnya aku menemukan kesamaan bahwa aku dan ia sama-sama pengagum alam dan selalu memilih alam untuk menumpahkan kekecewaan pada dunia. Aku menemukan nilai yang tak sebatas teks-teks basi dari sepenggal cerita hidupnya, yaitu tentang persahabatan, kegagalan cinta, perjuangan politik, kehidupan mahasiswa, pers, dan segala yang mengaitkannya dengan mandalawangi. Kehidupan kampus memang kehidupan paling romantis dalam sejarah umat manusia, dimana setiap orang selalu punya idealisme masing-masing, na...

MENYERUPUT

Aku sedang menyeruput  Di antara riuh rendah dedaunan yang menyapu malam Aku sedang melalang buana Mencari namamu di antara gugusan bintang-bintang di langit lepas Bukan malam bukan siang Kamu selalu membuat cangkirku kesepian Kapan kita bisa bertatap wajah kembali? Sekedar bersilang ide tentang kondisi manusia dan perilakunya atau negeri yang sama-sama kita cintai Tidak kah kamu bisa menyala-nyala seperti api ? Tidak kah? -19-

Lelah yang menguap

27 september 2017 Dear N... Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 02.44 WITA. Aku masih terjaga tanpa sempat memejamkan mata. Ku buka lembaran karya Pram untuk menemukan inspirasi menulis, namun kenangan tentangmu justru menguasai ide-ide. Akhirnya aku memutuskan menulis kenangan tentangmu di 2015 lalu. Balai diklat transmigrasi Semarang. Perkenalan awal kita yang mengantarkan aku pada sebuah perasaan iba yang bermetamorfosa menjadi sebuah perasaan kagum. Semua ini berawal dari diskusi alot di kelas yang pernah menyudutkanmu. Sebuah pertentangan ideologi dengan realita yang membuatmu bungkam. Aku iba karena tak ada yang membelamu satupun. Berlanjut pada perbincangan pertama kita tentang potret islam di wilayah masing-masing sampai kita satu team dalam sebuah game menyusun kertas menjadi satu bangunan. Di antara teman-teman satu kelas kau lah yang paling berbeda menurutku. Kau sederhana, berwawasan luas, sedikit bicara tapi easy going. Puncaknya adalah saat kegaduhan yang menyeb...

MA LAO

Ada yang melarikan diri bertahun-tahun Di bawah remang cahaya lampu jalan dan temaram malam di pojokan kota Ada yang susah mengatakan iya Pada kebenaran yang diselubungkannya di antara celah-celah kerinduan Kau tahu Sakit menyakitimu Kau pun tahu Belenggu jiwaku belum lepas sempurna

Siapa saja

Di suatu sore aku menuju pantai dengan menunggang kuda Sambil menelusuri bibir pantai, aku menyaksikan para pelaut sedang mempersiapkan alat-alat melautnya: jala, tali, strongke, dan beberapa barang bawaan lainnya. Nampaknya langit sedang bersahabat Para pelaut itu begitu antusias Seolah seperti seekor rusa yang berlari dan menambah kecepatannya agar tetap hidup Disitu Pantai itu Yang tak berarti tanpa laut Yang meneduhkan, juga merisaukan Aku menyukainya sekaligus membencinya Karna ia menjadi tempat berlalu lalangnya dua nasib Ketika ombak menggapainya, maka terseretlah apa-apa yang ada Dan hanya menyisakkan hamparan pasir yang datar Tempat aku meletakkan ujung tongkat itu dan menuliskan angka 19 di atasnya Bertemankan angin dan garis lengkung yang mulai memerah Aku menepis segala kehampaan yang mulai menyesak di dada Tuhan pasti tau mengapanya Dengan satu hentakan Ku pacu kudaku meninggalkan bibir pantai Dan kembali pada keheningan malam Tentang hiruk pikuk kehidu...